Jumat, 06 Mei 2011

INKONTINENSIA URIN DAN ALVI

a) Pengertian
Inkontinensia urine merupakan eliminasi urine dari kandung kemih yang tidak terkendali atau terjadi diluar keinginan. Jika inkontinensia urine terjadi akibat kelainan inflamasi ( sistitis ), mungkin sifatnya hanya sementara. Namun , jika kejadian ini timbul karena kelainan neurologis yang serius ( paraplegia ), kemungkinan besar bersifat permanen.
(Bruner and suddart, 2000)
Inkontinenensia urine adalah pengeluaran urin tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan dan atau sosial.Variasi dari inkontinensia urin meliputi keluar hanya beberapa tetes urin saja, sampai benar-benar banyak, bahkan terkadang juga disertai inkontinensia alvi (disertai pengeluaran feses).
(agungrakhmawan, 2008).

Inkontinensia urine merupakan dorongan tidak sadar untuk mengeluarkan urine yang dapat bersifat permanen maupun temporer yang dapat menjurus ke dalam gangguan emosional dan dapat mempengaruhi pola sosialisasi.
Inkontinensia urin diklasifikasikan :
1) Inkontinensia Urin Akut Reversibel
Pasien delirium mungkin tidak sadar saat mengompol atau tak dapat pergi ke toilet sehingga berkemih tidak pada tempatnya. Bila delirium teratasi maka inkontinensia urin umumnya juga akan teratasi. Setiap kondisi yang menghambat mobilisasi pasien dapat memicu timbulnya inkontinensia urin fungsional atau memburuknya inkontinensia persisten, seperti fraktur tulang pinggul, stroke, arthritis dan sebagainya.
Resistensi urin karena obat-obatan, atau obstruksi anatomis dapat pula menyebabkan inkontinensia urin. Keadaan inflamasi pada vagina dan urethra (vaginitis dan urethritis) mungkin akan memicu inkontinensia urin. Konstipasi juga sering menyebabkan inkontinensia akut.
Berbagai kondisi yang menyebabkan poliuria dapat memicu terjadinya inkontinensia urin, seperti glukosuria atau kalsiuria. Gagal jantung dan insufisiensi vena dapat menyebabkan edema dan nokturia yang kemudian mencetuskan terjadinya inkontinensia urin nokturnal. Berbagai macam obat juga dapat mencetuskan terjadinya inkontinensia urin seperti Calcium Channel Blocker, agonist adrenergic alfa, analgesic narcotic, psikotropik, antikolinergik dan diuretic.
Untuk mempermudah mengingat penyebab inkontinensia urin akut reversible dapat dilihat akronim di bawah ini :
D à Delirium
R à Restriksi mobilitas, retensi urin
I à Infeksi, inflamasi, Impaksi
P à Poliuria, pharmasi
2) Inkontinensia Urin Persisten
Inkontinensia urin persisten dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, meliputi anatomi, patofisiologi dan klinis. Untuk kepentingan praktek klinis, klasifikasi klinis lebih bermanfaat karena dapat membantu evaluasi dan intervensi klinis
Kategori klinis meliputi :
a.Inkontinensia urin stress :
Tak terkendalinya aliran urin akibat meningkatnya tekanan intraabdominal, seperti pada saat batuk, bersin atau berolah raga. Umumnya disebabkan oleh melemahnya otot dasar panggul, merupakan penyebab tersering inkontinensia urin pada lansia di bawah 75 tahun. Lebih sering terjadi pada wanita tetapi mungkin terjadi pada laki-laki akibat kerusakan pada sfingter urethra setelah pembedahan transurethral dan radiasi. Pasien mengeluh mengeluarkan urin pada saat tertawa, batuk, atau berdiri. Jumlah urin yang keluar dapat sedikit atau banyak.

b.Inkontinensia urin urgensi :
Keluarnya urin secara tak terkendali dikaitkan dengan sensasi keinginan berkemih. Inkontinensia urin jenis ini umumnya dikaitkan dengan kontraksi detrusor tak terkendali (detrusor overactivity). Masalah-masalah neurologis sering dikaitkan dengan inkontinensia urin urgensi ini, meliputi stroke, penyakit Parkinson, demensia dan cedera medula spinalis. Pasien mengeluh tak cukup waktu untuk sampai di toilet setelah timbul keinginan untuk berkemih sehingga timbul peristiwa inkontinensia urin. Inkontinensia tipe urgensi ini merupakan penyebab tersering inkontinensia pada lansia di atas 75 tahun. Satu variasi inkontinensia urgensi adalah hiperaktifitas detrusor dengan kontraktilitas yang terganggu. Pasien mengalami kontraksi involunter tetapi tidak dapat mengosongkan kandung kemih sama sekali. Mereka memiliki gejala seperti inkontinensia urin stress, overflow dan obstruksi.

c.Inkontinensia urin overflow :
Tidak terkendalinya pengeluaran urin dikaitkan dengan distensi kandung kemih yang berlebihan. Hal ini disebabkan oleh obstruksi anatomis, seperti pembesaran prostat, faktor neurogenik pada diabetes melitus atau sclerosis multiple, yang menyebabkan berkurang atau tidak berkontraksinya kandung kemih, dan faktor-faktor obat-obatan. Pasien umumnya mengeluh keluarnya sedikit urin tanpa adanya sensasi bahwa kandung kemih sudah penuh.

d.Inkontinensia urin fungsional :
Memerlukan identifikasi semua komponen tidak terkendalinya pengeluaran urin akibat faktor-faktor di luar saluran kemih. Penyebab tersering adalah demensia berat, masalah muskuloskeletal berat, faktor lingkungan yang menyebabkan kesulitan unutk pergi ke kamar mandi, dan faktor psikologis.
Seringkali inkontinensia urin pada lansia muncul dengan berbagai gejala dan gambaran urodinamik lebih dari satu tipe inkontinensia urin. Penatalaksanaan yang tepat memerlukan identifikasi semua komponen.
(agungrakhmawan, 2008).
b) Etologi
Mengetahui penyebab inkontinensia sangat penting untuk pengelolaan yang tepat. Pertama-tama harus diusahakan untuk membedakan apkah penyebab inkontinensia berasal dari:
a) Kelainan urologic; misalnya radang,batu,tumor dll.
b) Kelainan neurologic; misalnya stroke,trauma pada medulla spinalis, dimensia dll.
c) Lain-lain misalnya; hambatan mobilitas, situasi atau tempat berkemih yang tidak memadai
d) Usia, jenis kelamin, serta jumlah persalinan per vaginam yang pernah dialami sebelumya.
e) Infeksi saluran kemih, menopause, pembedahan urogenital, penyakit kronis dan penggunaan obat-obatan
( Whitehead, Fonda dan Smelzter, Bare )
Penyebab inkontinutas urine Kesadaran kebutuhan berkemih Kemampuan kortek untuk menahan berkemih Busur reflek Respon kandung kencing terhadap pengisian Akibat yang ditimbulkan
Cerebral clouding
Terganggu Terganggu Bekerja Normal Bekemih tidak terkendali akibat respon reflek
Infeksi
Bekerja Bekerja, tapi terkalahkan oleh respon reflek yang kuat Mendapat stimulus tidak normal Meningkat berkemih karena respon reflek yang kuat ( terpaksa )
Gangguan jalur dari saraf pusat( lesi kortek ) Berkurang Terganggu Bekerja Meningkat berkemih karena respon reflek
Lesi neuron atas
Rusak Rusak Bekerja,tapi tidak tepat Meningkat berkemih karena respon reflek

Lesi motor neuron bawah Rusak Rusak Rusak atau terganggu Rusak atau terganggu Distensi atau pengosongan tidsk sempurna

Kerusakan jaringan Bekerja Ada, tapi tidak berfungsi karena respon otot jelek Bekerja Normal Hilang kendali berkemih karena otot-otot terganggu

TABEL PENYEBAB INKONTINENSIA URINE

c) Patofisiologi
Terjadinya pengisian kandung kencing sehingga meningkatkan tekanan tekanan didalam kandung kemih. Otot-otot detrusor ( lapisan yang ke tiga dari kandung kencing) memberikan respon dengan relaksasi agar dapat memperbesar volume daya tamping. Bila titik daya tamping telah tercapai, biasanya 150-200 ml urin akan merangsang stimulus yang ditransmisikan lewat serabut reflek eferen ke lengkungan pusat reflek untuk mikturisasi. Impuls kemudian disalurkan melalui serabut efferent dari lengkungan reflek ke kandung kemih, menyebabkan kontraksi otot detrusor. Sfingter interna yang dalam keadaan normal menutup, serentak bersama-sama membuka dan urine masuk ke irethra posterior. Relaksasi sfingter eksterna dan otot perineal mengikuti dan isis kandung kemih keluar. Pelaksanaan kegiatan reflek bisa mengalami interupsi sehingga berkemih ditangguhkan melalui dikeluarkannya impuls inhibitor dari pusat kortek yang berdampak kontraksi diluar kesadaran dari sfingter interna. Bila salah satu dari system yang komlek ini mengalami rusak, akan bisa terjadinya inkontinrensia urine.
(Bruner and suddart, 2000)

d) Manifestasi klinik
Gejala gejala yang ditimbulakan dari inkontinensia urine seperti ruam, dekubitus, infeksi kulit serta saluran kemih, dan pembatasan mobilisasi / aktifitas.
e) Pemeriksaan Pada Inkontinensia Urin
1. Tes diagnostik pada inkontinensia urin
Menurut Ouslander, tes diagnostik pada inkontinensia perlu dilakukan untuk mengidentifikasi faktor yang potensial mengakibatkan inkontinensia, mengidentifikasi kebutuhan klien dan menentukan tipe inkontinensia.
 Mengukur sisa urin setelah berkemih, dilakukan dengan cara :
Setelah buang air kecil, pasang kateter, urin yang keluar melalui kateter diukur atau menggunakan pemeriksaan ultrasonik pelvis, bila sisa urin > 100 cc berarti pengosongan kandung kemih tidak adekuat.
 Urinalisis
Dilakukan terhadap spesimen urin yang bersih untuk mendeteksi adanya faktor yang berperan terhadap terjadinya inkontinensia urin seperti hematuri, piouri, bakteriuri, glukosuria, dan proteinuria. Tes diagnostik lanjutan perlu dilanjutkan bila evaluasi awal didiagnosis belum jelas. Tes lanjutan tersebut adalah :
 Tes laboratorium tambahan seperti kultur urin, blood urea nitrogen, creatinin, kalsium glukosa sitologi.
 Tes urodinamik a untuk mengetahui anatomi dan fungsi saluran kemih bagian bawah
 Tes tekanan urethra mengukur tekanan di dalam urethra saat istirahat dan saat dianamis.
 Imaging tes atau pemotretan terhadap saluran perkemihan bagian atas dan bawah.
2. Pemeriksaan penunjang
Uji urodinamik sederhana dapat dilakukan tanpa menggunakan alat-alat mahal. Sisa-sisa urin pasca berkemih perlu diperkirakan pada pemeriksaan fisis. Pengukuran yang spesifik dapat dilakukan dengan ultrasound atau kateterisasi urin. Merembesnya urin pada saat dilakukan penekanan dapat juga dilakukan. Evaluasi tersebut juga harus dikerjakan ketika kandung kemih penuh dan ada desakan keinginan untuk berkemih. Diminta untuk batuk ketika sedang diperiksa dalam posisi litotomi atau berdiri. Merembesnya urin seringkali dapat dilihat. Informasi yang dapat diperoleh antara lain saat pertama ada keinginan berkemih, ada atau tidak adanya kontraksi kandung kemih tak terkendali, dan kapasitas kandung kemih.
3. Laboratorium
Elektrolit, ureum, creatinin, glukosa, dan kalsium serum dikaji untuk menentukan fungsi ginjal dan kondisi yang menyebabkan poliuria.
4. Catatan berkemih (voiding record)
Catatan berkemih dilakukan untuk mengetahui pola berkemih. Catatan ini digunakan untuk mencatat waktu dan jumlah urin saat mengalami inkontinensia urin dan tidak inkontinensia urin, dan gejala berkaitan dengan inkontinensia urin. Pencatatan pola berkemih tersebut dilakukan selama 1-3 hari. Catatan tersebut dapat digunakan untuk memantau respon terapi dan juga dapat dipakai sebagai intervensi terapeutik karena dapat menyadarkan pasien faktor-faktor yang memicu terjadinya inkontinensia urin pada dirinya.
(Bruner and suddart, 2000)
f) Penatalaksanaan

Penatalaksanaan inkontinensia urin menurut Muller adalah mengurangi faktor resiko, mempertahankan homeostasis, mengontrol inkontinensia urin, modifikasi lingkungan, medikasi, latihan otot pelvis dan pembedahan.
Dari beberapa hal tersebut di atas, dapat dilakukan sebagai berikut :
a. Pemanfaatan kartu catatan berkemih
Yang dicatat pada kartu tersebut misalnya waktu berkemih dan jumlah urin yang keluar, baik yang keluar secara normal, maupun yang keluar karena tak tertahan, selain itu dicatat pula waktu, jumlah dan jenis minuman yang diminum.
b. Terapi non farmakologi
Dilakukan dengan mengoreksi penyebab yang mendasari timbulnya inkontinensia urin, seperti hiperplasia prostat, infeksi saluran kemih, diuretik, gula darah tinggi, dan lain-lain. Adapun terapi yang dapat dilakukan adalah :
Melakukan latihan menahan kemih (memperpanjang interval waktu berkemih) dengan teknik relaksasi dan distraksi sehingga frekwensi berkemih 6-7 x/hari. Lansia diharapkan dapat menahan keinginan untuk berkemih bila belum waktunya. Lansia dianjurkan untuk berkemih pada interval waktu tertentu, mula-mula setiap jam, selanjutnya diperpanjang secara bertahap sampai lansia ingin berkemih setiap 2-3 jam.
Membiasakan berkemih pada waktu-waktu yang telah ditentukan sesuai dengan kebiasaan lansia.
Promted voiding dilakukan dengan cara mengajari lansia mengenal kondisi berkemih mereka serta dapat memberitahukan petugas atau pengasuhnya bila ingin berkemih. Teknik ini dilakukan pada lansia dengan gangguan fungsi kognitif (berpikir).
Melakukan latihan otot dasar panggul dengan mengkontraksikan otot dasar panggul secara berulang-ulang. Adapun cara-cara mengkontraksikan otot dasar panggul tersebut adalah dengan cara :
Berdiri di lantai dengan kedua kaki diletakkan dalam keadaan terbuka, kemudian pinggul digoyangkan ke kanan dan ke kiri ± 10 kali, ke depan ke belakang ± 10 kali, dan berputar searah dan berlawanan dengan jarum jam ± 10 kali.
Gerakan seolah-olah memotong feses pada saat kita buang air besar dilakukan ± 10 kali.
Hal ini dilakukan agar otot dasar panggul menjadi lebih kuat dan urethra dapat tertutup dengan baik.
Menurut Kane dkkuntuk masing-masing tipe dari inkontinensia ada bebrapa hal khusus yang dianjurkan misalnya;
a. Inkontinensia tipe stress
o Latihan oto-otot dasar panggul
o Latihan penyesuaian berkemih
o Obat-obatan untuk merelaksasi kandung kemih
o Tindakan pembedahan dapat memperkuat muara kandung kemih
b. Inkontinensia urgensi:
o Latiahan mengenal sensasi berkemih
o Obat-obatan untuk merelaksasikan kandung kemih dan estrogen
o Tindakan pembedahan untuk mengambil sumbatan yang dalam keadaan patologik dapat menyebabkan iritasi pada saluran kandung kemih bagian bawah.
c. Inkontinensia tipe luapan:
o Kateterisasi, bila mungkin secara intermiten, dan kalau tidak mungkn secara menetap.
o Tindakan pembedahan untuk mengangkat penyebab sumbatan.
d. Inkontinensia tipe fungsional:
o Penyesuaian sikap berkemih antara lain dengan jadwal dan kebiasaan berkemih.
o Pakaian dalam dan kain penyerap khusus lainnya,
o Penyesuaian /modifikasi lingkungan tempat berkemih
o Kalau perlu gunakan obat-abatan yang dapat merelaksasikan kandung kemih

4. Terapi farmakologi
Obat-obat yang dapat diberikan pada inkontinensia urgen adalah antikolinergik seperti Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine, flavoxate, Imipramine.Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis, yaitu pseudoephedrine untuk meningkatkan retensi urethra.
Pada sfingter relax diberikan kolinergik agonis seperti Bethanechol atau alfakolinergik antagonis seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi, dan terapi diberikan secara singkat.

5. Terapi pembedahan
Terapi ini dapat dipertimbangkan pada inkontinensia tipe stress dan urgensi, bila terapi non farmakologis dan farmakologis tidak berhasil. Inkontinensia tipe overflow umumnya memerlukan tindakan pembedahan untuk menghilangkan retensi urin. Terapi ini dilakukan terhadap tumor, batu, divertikulum, hiperplasia prostat, dan prolaps pelvic (pada wanita).
6. Modalitas lain
Sambil melakukan terapi dan mengobati masalah medik yang menyebabkan inkontinensia urin, dapat pula digunakan beberapa alat bantu bagi lansia yang mengalami inkontinensia urin, diantaranya adalah pampers, kateter, dan alat bantu toilet seperti urinal, komod dan bedpan.
 Pampers
Dapat digunakan pada kondisi akut maupun pada kondisi dimana pengobatan sudah tidak berhasil mengatasi inkontinensia urin.Namun pemasangan pampers juga dapat menimbulkan masalah seperti luka lecet bila jumlah air seni melebihi daya tampung pampers sehingga air seni keluar dan akibatnya kulit menjadi lembab, selain itu dapat menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal, dan alergi.
 Kateter
Kateter menetap tidak dianjurkan untuk digunakan secara rutin karena dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, dan juga terjadi pembentukan batu. Selain kateter menetap, terdapat kateter sementara yang merupakan alat yang secara rutin digunakan untuk mengosongkan kandung kemih. Teknik ini digunakan pada pasien yang tidak dapat mengosongkan kandung kemih. Namun teknik ini juga beresiko menimbulkan infeksi pada saluran kemih.
 Alat bantu toilet
Seperti urinal, komod dan bedpan yang digunakan oleh orang usia lanjut yang tidak mampu bergerak dan menjalani tirah baring. Alat bantu tersebut akan menolong lansia terhindar dari jatuh serta membantu memberikan kemandirian pada lansia dalam menggunakan toilet.

INKONTINENSIA ALVI
A. Pengertian

Inkontinensia alvi lebih jarang ditemukan dibandingkan inkontinensia urin. Defekasi, seperti halnya berkemih, adalah proses fisiologik yang melibatkan koordinasi sistem saraf, respon refleks, kontraksi otot polos, kesadaran cukup serta kemampuan mencapai tempat buang air besar. Perubahan-perubahan akibat proses menua dapat mencetuskan terjadinya inkontinensia, tetapi inkontinensia alvi bukan merupakan sesuatu yang normal pada lanjut usia.

B. Etiologi
Penyebab inkontinensia alvi dapat di bagi menjadi 4 kelompok ( Brcklehurst dkk, 1987 ; Kane dkk, 1989) :
a. Inkontinensia akibat konstipasi
Batasan dari konstipasi masih belum tegas. Secara teknis dimaksudkan untuk buang air besar kurang dari tiga kali per minggu. Tetapi banyak penderita sudah mengeluhkan konstipasi bila ada kesulitan mengelurkan feses yang keras atau merasa kurang puas saat BAB.
b. Inkontinensia alvi simtomatik
Merupakan penampilan klinis dari macam-macam kelainan patologik yang dapat menyebabkan diare yang ditandai dengan perubahan usia pada sfingter terhadap feses cair dan gangguan pada saluran anus bagian atas dalam membedakan flatus dan feses yang cair
Penyebab yang lain seperti kelainan metabolic misalnya DM, kelainan endokrin seperti tirotoksitosis, kerusakan sfingter anus sebagai komplikasi dari operasi hemoroid yang kurang berhasil dan prolapsisi rekti.
c. Inkontinrnsia alvi neurologic
Inkontinensia ini terjadi akibat gangguan fungsi yang menghambat dari korteks serebri saat terjadi regangan/ distensi rectum yang terjadi pada penderita denga infark cesebri multiple atau penderita demensia.
d. Inkontinensia alvi akibat hilangnya reflek anal
Inkontinensia alvi ini terjadi akibat hilangnya reflek anal disertai dengan kelemahan otot-otot.

C. Patofisiologi
Fungsi traktus gastrointestinal biasanya masih tetap adekuat sepanjang hidup. Namun demikian beberapa orang lansia mengalami ketidaknyamanan akibat motilitas yang melambat. Peristaltic di esophagus kurang efisien pada lansia. Selain itu, sfingter gastroesofagus gagal berelaksasi, mengakibatkan pengosongan esophagus terlambat.keluhan utama biasanya berpusat pada perasaan penuh, nyeri ulu hati, dan gangguan pencernaan. Motalitas gaster juga mnurun, akibatnya terjadi keterlambtan pengososngan isis lambung. Berkurangnya sekresi asam dan pepsin akan menurunkan absorsi besi, kansium dan vitamin B12.
Absorsi nutrient di usus halus nampaknya juga berkurang dengan bertambahnya usia namun masih tetap adekuaT. Fungsi hepar, kandung empedu dan pangkreas tetap dapat di pertahankan, meski terdapat inefisiensi dalam absorsi dan toleransi terhadap lemak. Impaksi feses secara akut dan hilangnya kontraksi otot polos pada sfingter mengakibatkan inkontinensia alvi.
(Brunner & Suddart, 2001).
D. Manifestasi Klinik
Secara klinis, inkontinensia alvi dapat tampak sebagai feses yang cair atau belum berbentuk dan feses keluar yang sudah berbentuk, sekali atau dua kali sehari dipakaian atau tempat tidur.
Perbedaan penampilan klinis ini dapat menunjukkan penyebab yang berbeda-beda, antara lain inkontinensia alvi akibat konstipasi (sulit buang air besar), simtomatik (berkaitan dengan penyakit usus besar), akibat gangguan saraf pada proses defekasi (neurogenik), dan akibat hilangnya refleks pada anus.
( agungrakhmawan.wordpress.com/2008 )
F. Penatalaksanaan
Dengan diagnosis dan pengobatan yang sesuai ( tindakan suportif, obat-obatan dan bila perlu pembedahan), inkontinensia alvi pada usia lanjut hampir seluruhnya dapat dicegah dan diobati. Tujuannya tidak hanya terletak pada keadaan yang kurang nyaman, bahkan memalukan bagi penderita, tetapi fakta bahwa inkontinensia alvi dapat merupakan petunjuk pertama adanya penyakit serius pada saluran cerna bagian bawah yang memerlukan pengobatan dini jika benar-benar ditemukan.
( agungrakhmawan.wordpress.com/2008 )








BAB III
PROSES KEPERAWATAN

Proses Keperawatan Pada Lansia Dengan Inkontinensia Urine

A. Pengkajian
 Data subjektif
a. Apakah terjadi ketidamampuan secara total untuk pengendalian berkemih.
b. Berapa frekunsi urine
c. Apakah ada sesuatu yang mendahului inkontinen ( stress, ketakutan, tertawa, gerakan )
d. Berapa kali inkontinensia terjadi
e. Apakah ada kemerahan, lecet, bengkak pada daerah perineal
f. Apakah klien mengalami obesitas
g. Apakah urine menetes diantara waktu BAK, jika ada berapa banyak
h. Apakah inkontinensia terjadi pada saat-saat yang bisa diperkirakan seperti pada saat batuk, bersin tertawa dan mengangkat benda-benda berat
i. Apakah klien menyadari atau merasakan keinginan akan BAK sebelum inkontinensia terjadi
j. Berapa lama klien mempunyai kesulitan dalam BAK / inkontinensia
urine
k. Apakah klien merasakan kandung kemih terasa penuh
l. Apakah klien mengalami nyeri saat berkemih
m. Apakah masalah ini bertambah parah
n. Bagaimana cara klien mengatasi inkontinensia
 Data obyektif
a. Volume output
b. Palpasi pada vesika urinaria untuk mengetahuindaanya residu pada kandung kemih
c. Tingkat kesadaran pasien untuk mennjalin kerjasama
d. Kemampuan pasien unuk mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan
e. Apakah terdapat sebab fisiologi terjadi inkontinen ( seperti cidera sumsum tulang belakang )
 Riwayat Penyakit
Riwayat penyakit harus menekankan pada gejala yang muncul secara rinci agar dapat ditentukan tipe inkontinensia, patofisiologi dan faktor-faktor pemicu.
a. Lama dan karakteristik inkontinensia urin
b. Pengobatan inkontinensia urin sebelumnya dan hasilnya
 Pemeriksaan Fisik
Tujuan pemeriksaan fisik adalah mengenali pemicu inkontinensia urin dan membantu menetapkan patofisiologinya. Selain pemeriksaan fisik umum yang selalu harus dilakukan, pemeriksaan terhadap abdomen, genitalia, rectum, fungsi neurologis, dan pelvis (pada wanita) sangat diperlukan.
a. Inspeksi
 Adanya kemerahan, iritasi / lecet dan bengkak pada daerah perineal.
 Adanya benjolan atau tumor spinal cord
 Adanya obesitas atau kurang gerak
b. Palpasi
 Adanya distensi kandung kemih atau nyeri tekan
 Teraba benjolan tumor daerah spinal cord
c. Perkusi
 Terdengar suara redup pada daerah kandung kemih.

Pemeriksaan abdomen harus mengenali adanya kandung kemih yang penuh, rasa nyeri, massa, atau riwayat pembedahan. Kondisi kulit dan abnormalitas anatomis harus diidentifikasi ketika memeriksa genitalia.
Pemeriksaan rectum terutama dilakukan untuk medapatkan adanya obstipasi atau skibala, dan evaluasi tonus sfingter, sensasi perineal, dan refleks bulbokavernosus. Nodul prostat dapat dikenali pada saat pemeriksaan rectum.
Pemeriksaan pelvis mengevaluasi adanya atrofi mukosa, vaginitis atrofi, massa, tonus otot, prolaps pelvis, dan adanya sistokel atau rektokel. Evaluasi neurologis sebagian diperoleh saat pemeriksaan rectum ketika pemeriksan sensasi perineum, tonus anus, dan refles bulbokavernosus.
Pemeriksaan neurologis juga perlu mengevaluasi penyakit-penyakit yang dapat diobati seperti kompresi medula spinalis dan penyakit parkinson. Pemeriksaan fisik seyogyanya juga meliputi pengkajian tehadap status fungsional dan kognitif, memperhatikan apakah pasien menyadari keinginan untuk berkemih dan mengunakan toilet.
B. Dianosa keperawatan
a) Gangguan kognitif berhubungan dengan defist pemeliharaan hygine ke toilet
b) Iritasi berhubungan dengan potensial gangguan itegritas kulit
c) Gangguan sensorimotor berhubungan pola eliminasi berkemih
C. Implementasi
a. Menjaga kebersihan kulit, kulit tetap dalam keadaan kering, ganti sprei atau pakaian bila basah.
b. Anjurkan klien untuk latihan bladder training
c. Anjurkan pemasukkan cairan 2-2,5 liter / hari jika tidak ada kontra indikasi.
d. Anjurkan klien untuk latihan perineal atau kegel’s exercise untuk membantu menguatkan kontrol muskuler ( jika di indikasikan )
Latihan ini dapat dengan berbaring, duduk atau berdiri
o Kontraksikan otot perineal untuk menghentikan pengeluaran urine
o Kontraksi dipertahankan selama 5-10 detik dan kemudian mengendorkan atau lepaskan
o Ualngi sampai 10 kali, 3-4 x / hari
e. Cek obat-obat yang diminum ( narkotik, sedative, diuretik, antihistamin dan anti hipertensi ), mungkin berkaitan dengan inkontinensia.
f. Cek psikologis klien.

D. Evaluasi
a. Klien dapat pemeliharaan toilet hygiene
b. Intergitas kulit kembali normal
c. Gangguan pola sensori kembali normal




Proses Keperawatan Pada Lansia Dengan Inkontinensia Urine

A. Pengkajian
 Riwayat keperawatan
a. Pola defikasi
b. Kapan anda biasanya ingin BAB ?
c. Apakah kebiasaan tersebut saat ini mengalami perubahan ?
d. Gambaran feses dan perubahan yang terjadi
e. Masalah eliminasi alvi
f. Factor yang mempengaruhi eliminasi
 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik abdomen terkait dengan eliminasi alvi meliputi inspeksi, auskultasi, perkusi dan palpasi dikhususkan pada saluran intestinal. Auskultasi dikerjakan sebelum palpasi, sebab palpasi dapat merubah peristaltik. Pemeriksaan rektum dan anus meliputi inspeksi dan palpasi.

B. Diagnosa
Label diagnostik masalah eliminasi alvi menurut NANDA meliputi :
a. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan diare berkepanjangan
b. Harga diri rendah berhubungan dengan inkontinensia usus
c. Defisit pengetahuan tentang bowel training, manajemen ostomy berhubungan dengan kurangnya pengalaman

C. Perencanaan
Tujuan utama klien dengan masalah eliminasi alvi adalah untuk :
a. Mempertahankan atau mengembalikan pola eliminasi alvi normal
b. Mempertahankan atau mendapatkan kembali konsisteni feses normal
c. Mencegah resiko yang berhubungan dengan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit,trauma kulit, distensi abdomen dan nyeri.
D. Implementasi
 Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan diare berkepanjangan
Tujuan : volume cairan dapt terpenuhi
a) Anjurkan pasien untuk banyak minum (minum minimal 8 gelas / hari untuk mencegah dehidrasi)
b) Anjurkan makan makanan yang mengandung Natrium dan Kalium seperti dalam daging dan sayuran
c) Tingkatkan makanan yang mengandung serat yang mudah larut seperti pisang
d) Batasi makanan yang mengandung serat tidak larut seperti buah mentah, sereal dan makanan yang berlemak
e) Jika mungkin hentikan obat yang menyebabkan diare
 Harga diri rendah berhubungan dengan inkontinensia usus
Tujuan : harga diri dapat terpenuhi
a. Klien seharusnya dianjurkan untuk defeksi ketika merasa ingin defekasi.
b. Untuk menegakkan keteraturan eliminasi alvi, klien dan perawat dapat berdiskusi ketika terjadi peristaltik normal dan menyediakan waktu untuk defekasi.
c. Aktivitas lain seperti mandi dan ambulasi seharusnya tidak menyita waktu untuk defekasi.

 Defisit pengetahuan tentang bowel training, manajemen ostomy berhubungan dengan kurangnya pengalaman
Tujuan : pasien mengetahui cara latihan bowel training
a. Berikan pengetahuan tentang latihan bowel training pada pasien
b. Berikan latihan positioning
c. Berikan latihan / aktivitas rutin kepada klien

E. Evaluasi
a. Asupan cairan dan diet klien sudah tepat
b. Harga diri pasien kembali normal
c. Klien dan keluarga memahami instruksi tentang training bowel



PENUTUP

A. Kesimpulan

Inkontinensia urine merupakan keluahan yang banyak dijumpai pada lanjut usia. Prevalensinya meningakat dengan bertambahnya umur, lebih banyak didapatkan pada wanita. Inkontinensia alvi lebih jarang ditemukan dibanding inkontinensia urine. Defekasi, seperti halnya berkemih, adalah proses fisiologik yang melibatkan koordinasi sistem saraf, respon refleks, kontraksi otot polos, kesadaran cukup serta kemampuan mencapai tempat buang air besar. Perubahan-perubahan akibat proses menua dapat mencetuskan terjadinya inkontinensia, tetapi inkontinensia alvi bukan merupakan sesuatu yang normal pada lanjut usia.
Inkontinensia keadaan dimana pengeluaran urin atau feses tanpa disadari, dalam batas dan yang cukup sehigga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan kesehatan atau social. Inkontinensia urine merupakan eliminasi urine dari kandung kemih yang tidak terkendali atau terjadi diluar keinginan. Jika inkontinensia urine terjadi akibat kelainan inflamasi ( sistitis ), mungkin sifatnya hanya sementara. Namun , jika kejadian ini timbul karena kelainan neurologis yang serius ( paraplegia ), kemungkinan besar bersifat permanen.
B. Saran
1. Kurangi aktitas yang benar seperti mengangkat benda yang berat
2. Buatlah jadwal ketika ingin berkemih
3. Lakukan latihan bowel training inkontinensia alvi
4. Ketika merasakan sensasi ingin BAK/BAB segeralah ke toilet
5. Lakukan latihan blaidder training pada inkontinensia urine




DAFTAR PUSTAKA


Darmojo, Boedhi R. dan H. Hadi Martono. 2004. Buku ajar geriatri (ilmu kesehatan usia lanjut) Ed. 3. Jakarta : EGC
Stanley, Mickey dan Patricia Gauntleft Beare. 2006. buku ajar keperaatan gerontik : Ed. 2. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C. 2001. buku ajar keperaatan medikal-bedah Brunner & Suddarth : Ed. 8. Jakarta : EGC
Mansjoer Arif, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2, Media Aesculapius : Jakarta
Carpenito. 2000. Diagnosa Keperawatan. EGC : Jakarta.
http://agungrakhmawan.wordpress.com/2008/09/13/inkontinensia-urine
http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/Cybermed/detail.aspx?x=Health+Man&y=Cybermed|0|0|13|317

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar